HomeProfileNewsInformationGalleryLinkChose LaguageIndonesiaEnglishJapan
Home > News > Whats New

Google
 


WISATA KERETA TUA

Ungkapan mengatakan, jangan pernah melupakan sejarah. Kalimat itu tepat saat berwisata ke Ambarawa. Kota kecil yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini, memang menawarkan paket wisata kereta api uap bergigi dengan pemandangan khas pedesaan.

Sambangi saja Museum Kereta Api Ambarawa, atau dahulu dikenal sebagai Stasiun Willem I. Gedung bekas peninggalan kantor Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda kala itu, menyimpan sekitar 24 lokomotif kuno buatan tahun 1891-1966. Kereta besi itu menjadi koleksi setelah hampir satu decade bertugas menjelajahi Pulau Jawa. Sebut saja seperti lokomotif CC50 buatan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur, Swiss dan Werkspoor, Belanda. Loko ini dijuluki Bergkoningin alias Ratu Pegunungan. Julukan dalam bahasa Belanda ini didapat CC 50 karena lokomotif dengan tahun produksi 1927 itu, mampu melewati jalur pegunungan dengan tikungan-tikungan tajam.

Ada juga lokomotif kebanggaan perusahaan kereta api milik pemerintah Kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS), C28. Loko buatan Henschel, Jerman, ini tercatat sebagai loko tercepat di seluruh dunia untuk ukuran rel sempit (1.067 mm) pada era 1920-an. Kecepatannya pada masa itu bisa mencapai 120 kilometer per jam.

Masih ada sejumlah lokomotif kuno lainnya, seperti loko F10 buatan Hanomag, Jerman, dengan enam pasang roda penggerak. Konon, keberadaan loko ini tergolong langka dan jarang ditemukan di belahan dunia lainnya. Lokomotif lainnya C54, loko kebanggaan Semarang Cheribon Stoomtram Maatscappij (SCS); dan loko C51, loko kebanggaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Keseluruhan koleksi itu bebas untuk diabadikan gambarnya oleh pengunjung.

Selain menikmati kegagahan loko yang pernah melintasi sepanjang rel di Pulau Jawa ini, Museum Kereta Api juga menawarkan paket perjalanan wisata kereta uap. Perjalanan dimulai dari Stasiun Ambarawa ini menempuh rute sepanjang sembilan km, dengan tujuan stasiun Bedono. Laju kereta api uap sangat lambat, sehingga membuat waktu tempuh sekitar sejam lamanya dengan kecepatan maksimum hanya 10 km/jam. Sementara dua gerbong penumpang seluruh dindingnya terbuat dari kayu. Demikian pula tempat duduk penumpang semuanya dari kayu. Di dinding gerbong tak ada kaca jendela. Sehingga penumpang dapat menikmati semilir angin nan sejuk dan pemandangan selama perjalanan.

Perjalanan antara Stasiun Ambarawa-Stasiun Jambu belum terasa istimewa. Mengingat jalurnya masih datar. Sementara kanan kiri rel pemandangan yang terlihat hanyalah perkampungan penduduk.

Baru antara Stasiun Jambu-Stasiun Bedono terasa ada yang berbeda. Karena jalan sudah mulai menanjak maka posisi lokomotif diubah. Bila sebelumnya ada di depan, maka posisi lokomotif kini ada di belakang. Jadilah KA. bukan ditarik lokomotif, melainkan didorong oleh lokomotif. Jalur Stasiun Jambu-Stasiun Bedono ini berada di ketinggian 693 meter di atas permukaan air laut. Panorama di sepanjang perjalanan semakin luar biasa. Hamparan Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjadi latar belakang yang mempesona.
Karena letaknya yang cukup tinggi inilah di sepanjang jalur Stasiun Jambu-Stasiun Bedono ini terdapat rel bergerigi. Fungsinya adalah untuk menahan agar KA tidak mengalami kesulitan menanjaki jalur tersebut. Rel di jalur ini menjadi rel gerigi satu-satunya di Indonesia yang hingga sekarang masih difungsikan.

Selain jalur menuju Stasiun Bedono, rute yang patut dicoba ialah Ambarawa-Tuntang. Pemandangan pada rute ini tak kalah menariknya. Keelokan Danau Rawa Pening akan menyapa para penumpang kereta wisata di rute tersebut. Keindahan panorama pada rute Ambarawa-Tuntang sebenarnya tidak berhenti pada keelokan Danau Rawa Pening.

Lebih kurang sekitar dua kilometer dari Stasiun Tuntang terdapat Agrowisata Tlogo milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan fasilitas penginapan di tengah kebun kopi dan karet. Di perkebunan peninggalan Tlogo Maatscappij Amsterdam tahun 1856 itu kita bisa menikmati suasana hening perkebunan dengan panorama Gunung Rong (675 meter). Dari puncak gunung ini Anda bisa menyaksikan kecantikan Danau Rawa Pening, sepasang Gunung Merbabu dan Merapi di sisi selatan, serta Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran di bagian utara.

Rasakan pula perjalanan dengan tujuan menuju Stasiun Tanggung dan Stasiun Kedungjati di Kabupaten Grobogan. Keduanya adalah dua stasiun KA tertua di Indonesia, yang hingga kini bangunannya masih terpelihara dengan baik.


Menikmati kesederhanaan bangunan Stasiun Tanggung yang telah dipugar pada tahun 1910 itu adalah kepuasan tersendiri. Siapa sangka, stasiun yang saat ini tidak disinggahi kereta api tersebut, adalah stasiun KA pertama di Indonesia. Di stasiun dengan dinding masih berupa kayu jati bercat putih itu, akan menemui lemari kayu penyimpanan karcis kereta api zaman dahulu, lengkap dengan rute-rute tujuan. Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan rel KA pertama antara Semarang Kemijen dan Tanggung sejauh 25 km dan resmi digunakan untuk umum pada 10 Agustus 1867. Satu-satunya bangunan modern yang dapat dilihat di stasiun ini adalah ruangan sinyal berukuran 4 x 2,5 meter, yang menempati areal bekas peron stasiun.

Bicara per kereta api Indonesia, tentu tidak bisa melupakan peran Gubernur Jendral Hindia Belanda L.A.J.W. Baron Sloet van Beele Broke. Dialah yang membuka jalur pertama kereta api, tepatnya tanggal 17 Juni 1864, dengan rute perjalanan pertama antara Semarang dan Tanggung di tahun 1867.

Stasiun Tanggung bukanlah satu-satunya stasiun KA tertua di Indonesia yang mampu menyedot kekaguman pengunjung. Sekitar 10 kilometer dari Stasiun Tanggung kemegahan bangunan Stasiun Kedungjati akan segera terpampang.

Bangunan dengan arsitektur klasik seperti bangunan Stasiun Willem I Ambarawa itu resmi dioperasikan pada 21 Mei 1873. Peresmian Stasiun Kedungjati pada Mei 1873 itulah yang sekaligus menandai beroperasinya lintas Ambarawa-Kedungjati untuk pertama kalinya.

Ditilik dari segi arsitekturnya, bangunan ini dari awal dibangun dengan skala publik sehingga kualitas material, seperti baja untuk rangka emplasemen, dibuat mampu bertahan hingga ratusan tahun. Keduanya berfungsi untuk stasiun transit pasukan Belanda.

Perlahan tapi pasti, lokomotif memasuki peron stasiun. Pluit panjang pun terdengar menandakan perjalanan usai sudah. Saat penumpang turun, maka lokomotif pun akan menanti kembali perjalanan esok hari.@imegi^berbagai sumberj

 

 
Copyright@2005. All Right Reserved. PT.Prime Strategy Indonesia